RSS

BUKAN TENAGA MEDIS BIASA

04 Sep

Mencapai  masyarakat  sehat  dan  sejahtera sejatinya  bukanlah  sebuah   slogan  belaka, tapi benar-benar  sesuatu  yang  memang  harus  diperjuangkan.  Dan  inilah  kisah   pejuang-pejuang   kesehatan  masyarakat  yang  bekerja  dengan kesungguhan  hati, mengabdi   demi  kesehatan sesama  manusia. Bahkan  sebagian  rela  bekerja tanpa  gaji.

Adalah bidan  Eulis Rosmiati  yang  bertugas di desa Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, dengan  warga desa   yang memiliki pengetahuan minim  tentang  pentingnya kesehatan. Ia  bertugas  sejak  tahun 2008. Sebagai bidan,  ia tak sekedar membantu proses persalinan saja. Eulis juga terus membangun dan memberdayakan masyarakat desa dengan program-program  unik kreasinya.

Misal, untuk  mengatasi urusan buang  hajat  masyarakat yang masih  sembarangan, ia tak sungkan membuat gebrakan baru dengan membentuk kelompok arisan  WC, dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah warga sehat. Dan Eulis juga menciptakan program iuran yang disesuaikan dengan kemampuan mata pencaharian masing-masing penduduk di desa sebagai dana cadangan saat diperlukan mendadak untuk pengobatan dan biaya persalinan.

Sebut saja program meronce kasih,   program untuk warga yang bekerja sebagai nelayan yang mengumpulkan satu kilo ikan dengan kualitas paling rendah setiap habis pergi melaut. Ikan yang dikumpulkan itu, kemudian dijual pada tengkulak dan uangnya-pun disimpan sebagai biaya cadangan. Begitu-pun dengan program lainnya,  seperti seliber beras, sagandu saminggu, lima ribu kasih dan banyak lagi.   “Sejak  awal tahun ini, masyarakat  banyak yang  sudah  dapat  jamkesmas, sehingga uang  hasil  iuran  itu  sudah  dipakai  untuk  keperluan pembangunan lain,” ujar   Eulis  saat tampil di  Kick  Andy.

Tentu  saja, Eulis juga senantiasa memperhatikan kesehatan dan kesiapan ibu hamil untuk dapat menjalani persalinan yang sehat dan selamat. Ia kemudian menggagas program rumah singgah, yakni pemberdayaan rumah warga setempat  pengganti puskesmas sebagai tempat persalinan yang layak untuk ibu bersalin.

Kini berkat program  meningkatkan kesehatan masyarakat, kesehatan dan kesejahteraan desa Ujunggenteng pun semakin  baik,  hingga terkenal ke luar pelosok Sukabumi. Sebagai bidan-pun Eulis Rosmiati mendapat penghargaan dengan menyandang gelar sang teladan kesehatan 2011.

Kisah lain datang  dari  Jambi.  Tentang Syamsinar  Rasyad,  perempuan   berusia 58 tahun, yang  sudah 20 tahun mengabdi  sebagai  seorang relawan dari Perkumpulan Pemberantas Tuberkulosis Indonesia (PPTI).

Umi, panggilan akrab ibu Syamsinar,  setiap hari ia selalu berkeliling kampung untuk mencari penderita TBC,  meskipun ia bukan seorang tenaga peramedis.  Tak jarang ia harus bejalan jauh untuk menemui pasien-pasiennya.  Selain menemui langsung para pasien, ia juga melakukan sosialisasi dari mesjid ke mesjid, menghimbau agar para penderita tuberculosis, untuk mau didampingi untuk berobat di klinik PPTI.

Tak jarang  Syamsinar mendapat cibiran dari masyarakat, terhadap  apa  yang dilakukannya. Meski  demikian,  Syamsinar  tak patah  arang.  Hingga saat ini ia sudah menolong sedikitnya 185 orang yang sembuh dari TBC. Artinya, setiap tahun ia menyelamatkan jiwa rata-rata 10 orang atau lebih. “Dulu  ada orang  petani  yang  kena TBC  parah, setelah mengkuti  pengobatan dia sembuh. Sekarang  kebun kelapa sawitnya dah  10 hektar,”  papar  Syamsinar  tentang  salah  satu pasiennya. “Dan itu yang membuat saya  bangga  untuk terus mengabdi,” tambahnya. 

Sementara itu, dari  kota  Agam, Bukit Tinggi, ada dokter gigi  yang  melebarkan  misi  kedokterannya. Dokter gigi Salvi  Raini  adalah kepala  Puskesmas di Kecamatan Biaro, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Saat memulai programnya, Salvi menghadapi tantangan budaya dan adat yang cukup ketat di daerah kerjanya, di mana permasalahan narkoba masih dianggap sebagai suatu hal tabu yang tidak pantas untuk diungkapkan ke publik. Sehingga sering kali warga yang keluarganya terjerumus ke dalam permasalahan narkoba, tidak mengetahui kemana harus mencari bantuan pemulihan bagi anggota keluarganya dari kecanduan obat-obatan. Dengan menutupi permasalahan ini, justru membuka resiko bagi terjadinya penularan penyakit akibat penggunaan narkoba, seperti HIV dan AIDS.

Salvi mengambil langkah yang mendobrak kebiasaan ini dengan melakukan pendekatan dan penyuluhan kepada warga, sehingga para korban narkoba tidak segan dan takut untuk mendapatkan pengobatan dan rehabilitasi. Salvi juga melakukan pendekatan ke pihak kepolisian, sehingga pasien pecandu narkoba tidak mempunyai rasa takut akan ditahan bila berkonsultasi di Puskesmas Biaro. “Melihat masyarakat menjadi lebih baik, adalah sesuatu yg menyenangkan lebih dari apapun,” ujarnya.

Dan dari pulau Bali, ada kisah tentang seorang bidan asal Amerika, yang mengabdi bagi banyak perempuan di negeri in.

Inilah kisah-kisah penuh inspirasi dari orang-orang yang peduli sesama.

Artikel ini dikutip dari : http://www.kickandy.com/theshow/1/1/2166/read/BUKAN-TENAGA-MEDIS-BIASA-

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 4, 2011 in Kisah Motivasi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: